Thursday, Jan 19, 2012
Ditetapkan sebagai Model; PESAT Menjadi Pusat Perhatian
by Newsletter Untuk Negeri
Salah satu hal paling krusial yang dihadapi industri pertambangan batubara adalah lahan bekas tambang. Secara geomorfologi, rona lahan pasca tambang akan jauh berubah dibanding dengan sebelum dilakukan penambangan. Oleh sebab itu, upaya reklamasi dilakukan sebaik mungkin agar lahan bekas tambang "kembali" seperti rona awalnya, meski tentu saja tidak mungkin seratus persen sama, mengingat ada volume massa yang hilang, yaitu batubara itu sendiri.
Di lahan bekas tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC), reklamasi ternyata bukan merupakan "langkah akhir". Ada upaya lain yang dilakukan agar pemanfaatan lahan bekas tambang ini lebih optimal. Upaya tersebut ternyata merupakan bagian dari Program Pasca Tambang (Post Mining Program) untuk mempersiapkan masyarakat sekitar dalam menghadapi masa penutupan tambang setelah kontrak KPC berakhir. Diharapkan pada saat itu, ekonomi masyarakat tidak lagi bergantung pada industri pertambangan, sehingga penutupan tambang tidak akan menimbulkan gejolak berarti.
Salah satu pemanfaatan lahan bekas tambang KPC, tepatnya di Pit Surya, D2-Murung, Sangatta, adalah dengan dibangunnya pusat pelatihan budidaya ternak sapi dengan nama program Peternakan Sapi Terpadu (PESAT).
"Sejak berdiri hingga kini, PESAT telah meluluskan tiga angkatan peserta magang. Usai magang, para lulusan tersebut diberikan bekal dua ekor sapi oleh KPC. Selain itu, ada pula sapi yang dibantu pemerintah. Kini mereka telah memulai pengembangan sapi di desanya masing-masing", ujar Superintendent Agribisnis dan Konservasi pada Departemen Pemberdayaan Masyarakat KPC, Nurul Karim. Angkatan ke-3 PESAT baru saja menyelesaikan pemagangannya pada 27 Desember tahun lalu.
Model PESAT awalnya direkomendasikan oleh Dekan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Luki Abdullah, yang juga merupakan salah satu pendamping dalam kerjasama antara KPC dan IPB untuk melaksanakan program PESAT ini.
Pusat pelatihan yang arsitektur bangunannya meraih penghargaan tertinggi (Best Winner), kategori Tropical Buildings, pada ajang The Fifth ASEAN Energy Awards tahun 2011 ini, kini telah direkomendasikan menjadi row model pemanfaatan lahan bekas tambang di Indonesia. Kepeloporan KPC ini tentu membanggakan seluruh Insan Bakrie.
PESAT dijadikan row model karena program ini berbasis masyarakat (community base). Pada saat ini, peserta yang bisa ikut magang adalah warga sekitar KPC yang putus sekolah, ialah mereka yang sulit diterima bekerja di sektor formal. Diharapkan lulusan PESAT bisa menjadi peternak inti di desanya masing-masing.
Seiring perjalanan waktu, model PESAT terbukti menjadi kolaborasi yang bagus antara program Community Development (CD) KPC dengan program pemerintah. Program CD merupakan salah satu wujud pemenuhan Corporate Social Responsibility (CSR).
Perkembangan yang menggembirakan dari PESAT tak terbayangkan sebelumnya oleh Dr. Taufan, peneliti awal peternakan sapi di lahan bekas tambang KPC. "Saya sangat kaget juga dengan perkembangan peternakan sapi ini. Kok bisa berkembang sedemikian rupa ya?. Saya pikir dulu dipelihara begitu saja. Tapi ternyata, KPC menindaklanjutinya, itu luar biasa," kata Dr Taufan.
"Yang paling saya kagum adalah cara KPC merekrut staf. Meski bisnis inti KPC adalah batu bara, tapi KPC merekrut lulusan peternakan. Bagi saya ini luar biasa. Artinya KPC sungguh-sungguh ingin mengembangkan peternakannya ini secara serius di lahan reklamasi," sambungnya.
Keberadaan PESAT juga direspon positif oleh pemerintah daerah. Kepala Sub Dinas Peternakan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, Diah Ratnaningrum, merasa yakin bahwa program swasembada daging tahun 2014 bisa sukses. Keyakinan itu muncul setelah melihat dukungan dan kerjasama semua pihak, termasuk dari KPC melalui program yang berdimensi CSR ini.
Dengan adanya model seperti PESAT, Diah merasa punya harapan besar akan kesuksesan program nasional swasambada daging tahun 2014. "Kami melihat ada harapan besar. Oleh karena itu saya merasa senang sekali karena ada beberapa program pemerintah yang rasa-rasanya tidak mungkin kalau dikerjakan sendiri," ujarnya.
Program PESAT tak hanya dalam bentuk magang, sebagai bagian dari sistem PESAT dan dukungan terhadap program agribisnis lainnya, KPC sejak tahun 2008 lalu, telah memberikan beasiswa kepada 10 orang warga Sangatta, Bengalon dan Rantau Pulung. Mereka dibiayai penuh hingga lulus kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Mereka yang dibeasiswakan di IPB, menekuni berbagai jurusan, antara lain Peternakan, dokter Hewan, Teknologi Pertanian dan Gizi Makanan. Para lulusan ini nantinya diharapkan menjadi motor penggerak pengembangan peternakan dan agribisnis secara luas di Kutai Timur.
Atas kiprah KPC dalam program PESAT, Hermansyah, Kepala Desa Tepian Indah, Bengalon, mengucapkan banyak terima kasih. "Terima kasih telah mendidik anak-anak kami. Sekarang mereka sudah mendapatkan ilmu untuk diterapkan di tempat masing-masing. Semoga program ini bisa mengatasi kemiskinan di Kutai Timur. Terima kasih kepada KPC, pemerintah dan semua pihak atas terselenggaranya program yang baik ini," katanya.
Jelaslah, selain di tingkat "mikro", yaitu praktisi peternak dengan tingkat pendidikan terbatas, KPC juga menyiapkan para intelektual. Mereka bahu membahu diharapkan dapat menggulirkan ekonomi masyarakat di tingkat lokal, sehingga pada saat penutupan tambang, sudah terjadi self propelling economy. (ITA/SIL/RBP)