Monday, Aug 22, 2011
Upacara Perayaan HUT ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia
by
Sambutan Pimpinan Kelompok Usaha Bakrie
Upacara Perayaan HUT ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia
17 Agustus 2011
Saudara-saudaraku Insan Bakrie, peserta upacara yang berbahagia, baik yang berada di Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brojonegoro maupun yang melaksanakan upacara di pelosok Nusantara lainnya di mana perusahaan Bakrie berada.
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, salam sejahtera bagi kita semua.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah subhannahu wa ta’ala atas rido dan inayah-Nya, alhamdulillah, pagi hari dalam suasana Ramadhan ini, kita dapat berkumpul untuk memperingati peristiwa tahunan yang selalu menjadi momen penting bagi kita, baik sebagai pribadi, sebagai Insan Bakrie ataupun sebagai warga negara Indonesia.
Banyak cara dilakukan untuk merayakan HUT kemerdekaan,namun yang paling utama adalah bagaimana kita menyikapi dan menyukuri nikmat kemerdekaan sebagai anugerah dari-Nya. Kita jadikan momen ini, sebagai upaya mengenang dan menghormati jasa para pejuang yang memungkinkan kita semua saat ini bisa menikmati kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat, di dalam naungan NKRI.
Insan Bakrie yang saya cintai, marilah sejenak kita renungkan arti 66 tahun kemerdekaan kita ini. Sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, dengan warisan seni budaya yang mempesona, berkah potensi sumber daya alam yang melimpah, serta keragaman hayati yang membuat ilmuwan berdecak kagum, Kita memiliki modal yang sangat besar.
Jumlah penduduk Indonesia saat ini hampir mencapai 240 juta jiwa. Jadi Indonesia mempunyai pasar domestik yang sangat besar dan kuat. Pertumbuhan ekonomi kita juga sangat menjanjikan. Skala perekonomian kita terbesar di Asia Tenggara, atau sekitar 45 persen. Pendapatan per kapita kita saat ini mencapai 3 ribu dollar AS, dan diperkirakan tahun 2015 meningkat menjadi lebih dari 4 ribu dollar AS. Hasil ini akan membuat Indonesia, yang sekarang sudah sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke-16, menjadi 10 besar di dunia. Bukan suatu pencapaian kecil.
Indonesia memiliki kawasan hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik yaitu sekitar satu seperempat juta kilometer persegi dengan keanekaragaman jenis pohon yang paling beragam di dunia. Indonesia mempunyai pantai sepanjang 81 ribu kilometer atau sekitar 14 persen dari panjang pantai dunia.
Keanekaragaman flora dan fauna Indonesia, unik dan menakjubkan. Sekitar 10 persen spesies bunga, 12 persen spesies mamalia, 16 persen spesies reptil dan amphibia, 17 persen spesies burung serta 25 persen spesies ikan dunia, ada di Indonesia. Indonesia adalah megabiodiversity!
Namun kita harus jujur mengakui bahwa dalam mengisi kemerdekaan ini, modal besar yang kita miliki, belum menjadikan Indonesia sebagai Negeri yang berkedaulatan penuh di semua sisi kehidupannya, dengan segenap warga bangsanya menjadi manusia yang sejahtera dan bermartabat sesuai cita-cita luhur para Pendiri Bangsa.
Pasar kita yang besar lebih banyak dimanfaatkan oleh asing. Kita masih menjadi bangsa konsumen, bukan produsen. Sumber daya alam kita lebih banyak kita ekspor sebagai bahan mentah. Kita belum mengolahnya dengan nilai tambah (value added) sehingga bermanfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat, sebagaimana bunyi Undang-Undang Dasar 45.
Masih banyak yang perlu dikerjakan, masih banyak yang perlu dibenahi untuk mengubah modal besar yang kita miliki agar dapat memberi nilai tambah yang berlipat ganda bagi kita semua. Tidak saja bagi saudara-saudara kita segenap Warga Indonesia. Namun tentunya bagi seluruh umat manusia di permukaan bumi ini.
Agar dapat mewujudkan cita-cita awal para Pendiri Bangsa, kita semua harus bersama-sama membangun negeri ini agar dapat berdiri tegak menjadi Bangsa yang disegani dan memiliki daya.
Kita semua mahfum bahwa globalisasi adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dielakkan dan harus kita hadapi. Bagaimana caranya menghadapi kenyataan yang penuh dengan tantangan ini?
Banyak hal yang terjadi di suatu negeri, akan memberikan dampak ke negeri yang lain. Apa yang terjadi di Amerika Serikat saat peringkat utangnya diturunkan? Seluruh belahan dunia, termasuk negara kita terpengaruh.
Kita harus waspada, menyiapkan diri mengantisipasi berbagai dampak yang akan berimbas pada perekonomian nasional. Krisis di Amerika Serikat, Yunani, Itali dan Spanyol diperkirakan akan berjalan cukup panjang. Namun saya mengingatkan, bahwa di balik semua hambatan, pasti ada jalan keluarnya. Di balik semua tantangan, pasti ada peluang. Agama juga telah mengajarkan “ Di balik setiap kesulitan, selalu ada kemudahan”.
Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah yang lalu, karena sudah kita lewati. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah orang lain, karena hanya mereka yang dapat mengubah dirinya sendiri. Akan tetapi ada satu hal yang pasti, yakni kita dapat mengubah diri kita sendiri!
Kita dapat memulai perubahan diri sendiri dengan mengubah cara pandang kita sendiri. Mengubah cara pandang negatif menjadi cara pandang positif. Mengubah cara pandang yang selalu menunggu, menjadi penjemput bola. Mengubah cara pandang yang ‘EGP’ (Emangnya Gue Pikirin) menjadi cara pandang yang penuh kepedulian. Kredo perusahaan adalah menjadi pribadi ataupun kelompok usaha yang kontributif, bermanfaat untuk orang banyak.
Insan Bakrie yang saya cintai, harus diakui Kelompok Bakrie sendiri, mengalami dan menghadapi banyak sekali rintangan, rintangan yang sifatnya ekonomi murni, sosial maupun imbas politik.
Kita telah menempuh jalan panjang yang berliku.Mengalami pasang surut, ada masa-masa di bawah, masa-masa di atas, masa-masa suram dan masa-masa jaya.
Semua itu memberi kesadaran kepada kita pentingnya sebuah ikhtiar, berupa kerja keras, dan kemudian kepasrahan diri melalalui doa yang kita selalu panjatkan. Manusia bekerja sekuat tenaga dan Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan.
Perjalanan kelompok usaha kita selama 69 tahun, dimulai pada masa Jepang, memasuki masa kemerdekaan dan pergantian beberapa kali kekuasaan, mengajarkan kita banyak hal.
Tahun 1997 seiring krisis keuangan dunia, kelompok usaha kita nyaris karam. Tahun 2008 walau pun goncangannya tidak sebesar 1997, namun kelompok usaha kita juga kembali diguncang ombak besar.
Berkat kerjasama yang keras, saling percaya, serta keyakinan yang kuat akan cita-cita bersama antara nahkoda dan awak kapal, bahtera bernama Kelompok Usaha Bakrie (‘KUB’) bisa selamat melewatinya dan terus mengarungi gelombang lautan yang luas.
Armada kapal kita, Alhamdulillah wa syukurillah bertambah tahun, Insya Allah bertambah besar pula. Awak kapalnya juga makin besar, penumpangnyapun makin banyak. Tugas kita bersama untuk menjaga agar bahtera tetap berlayar, dengan aman menuju pantai harapan.
Kita harus bersyukur Tuhan Yang Maha Kuasa memberi hidayah sehingga kita mampu mengubah rintangan menjadi tantangan yang produktif. Insya Allah, keberadaan Kelompok Bakrie yang kita cintai ini, bulan Februari yang akan datang akan genap berusia 70 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang harus kita syukuri.
Apa yang harus kita kerjakan ke depan dengan modal yang kita miliki ini, tentunya dimulai dengan suatu pemahaman yang sama tentang apa yang terjadi di sekeliling kita. Bagaimana dan apa yang telah, sedang dan akan berubah di sekeliling kita, harus kita pahami dengan seksama.
Satu hal yang tidak berubah adalah nilai-nilai luhur yang telah kita miliki bersama. Jika Pembukaan UUD 45 dan Pancasila adalah falsafah dan nilai-nilai yang telah dicanangkan oleh para Pendiri Bangsa, maka kita di Kelompok Bakrie memiliki “Bakrie Untuk Negeri” sebagai falsafah dan “Trimatra Bakrie”, sebagai nilai-nilai utama Kelompok Bakrie. Falsafah dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Pendiri kita, Almarhum Haji Achmad Bakrie. Nilai-nilai sederhana, yang memang mencerminkan kesederhanaan Beliau. Kesederhanaan dengan makna yang sangat dalam.
Kita mengetahui bahwa “Keindonesiaan, Kemanfaatan dan Kebersamaan” adalah tiga dimensi Bakrie atau “Trimatra Bakrie” yang terdengar sangat sederhana. Namun jika kita gali ketiga kata tersebut, maknanya sangatlah mendalam.
Selain paradigma ‘entrepreneurship’ atau kewirausahaan yang kuat dimiliki dan diwarisi oleh para Pendiri Kelompok Bakrie, nilai-nilai dasar “Trimatra Bakrie” adalah ‘jiwa’ yang membalut paradigma kewirausahaan tersebut.
Inilah, saudara-saudaraku, para Insan Bakrie yang saya cintai, modal utama yang kita miliki yang telah terbukti mengantar perjalanan panjang dan berliku Kelompok Bakrie selama lebih dari 69 tahun.
Apakah yang perlu kita lakukan untuk menghadapi perubahan yang tidak akan berhenti? Jawabannya tentu: “banyak!” Namun satu hal yang sangat penting dan tidak boleh satu menitpun kita lengah, adalah “membangun diri kita sendiri!” Mengubah diri sendiri menjadi individu yang memiliki intelektualitas yang prima, emosionalitas yang mumpuni dan spiritualitas yang tinggi. Sebagai sosok yang cerdas, tegas, ramah dan bermartabat. Itulah sosok Insan Bakrie yang perlu kita bangun dan pelihara.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara melakukannya? Tentunya harus dilakukan secara sistemik. Kita harus memiliki sistem, organisasi dan sumberdaya yang dapat menunjang pengembangan SDM di Kelompok Bakrie.
Untuk itulah, keberadaan Bakrie Learning Center atau ‘BLC’, yang telah dibentuk sejak beberapa tahun lalu, harus dapat membantu mempercepat pertumbuhan jumlah pemimpin dan mutu kepemimpinan di Kelompok Bakrie, agar dapat menjadi sosok-sosok yang dapat diteladani oleh segenap tim kerjanya. Mulai dari tingkatan kepemimpinan yang paling tinggi sampai kepada para pimpinan dalam kelompok kerja terkecil.
BLC tidak dapat bekerja sendiri. Segenap CEO disetiap perusahaan Kelompok Bakrie diharapkan dapat memahami tujuan kita bersama, dengan memberikan dukungan kepada BLC. Para CEO tidak dapat bekerja sendiri, mereka harus dibantu oleh fungsi SDM-nya. Karena Fungsi SDM di setiap organisasi di Kelompok Bakrie harus mampu membangun sistem kerja yang dapat memacu kinerja setiap karyawannya. Sistem pengembangan SDM di setiap perusahaan harus mampu mengembangkan sistem pengelolaan talenta, yang akan memberikan masukan kepada BLC. Demikian seterusnya, sehingga kerja besar untuk mencetak pemimpin kelas dunia adalah kerja bersama.
Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin kelas dunia yang dapat membuktikan dirinya patut diteladani dalam melaksanakan proses kerja, dan juga hasil kerja yang memberikan nilai tambah bagi segenap pemangku kepentingan kita.
Semua kerja besar di lingkungan internal Bakrie tadi merupakan upaya kita untuk mendukung visi yang lebih besar bagi bangsa dan negara. Bakrie tidak ingin tumbuh besar sendiri. Kita ingin menciptakan iklim kewirausahaan yang terlembagakan. Kita menginginkan lahirnya generasi baru wirausaha yang profesional. Kita ingin lahir Bakrie-Bakrie lain yang ikut membuka lapangan kerja dan menopang perekonomian nasional.
Itulah tugas besar dan tugas mulia kita semua dalam memberikan kontribusi, mengisi kemerdekaan ini, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Tugas mulia kita, bukan hanya untuk diri sendiri, keluarga, dan perusahaan kita, namun Untuk Negeri tercinta ini. Negeri dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Itulah arti “Keindonesiaan” yang sebenar-benarnya. Sebuah perjuangan yang sangat berat. Namun jika kita dapat bersama-sama “Membangun Diri Untuk Negeri”, niscaya cita-cita Para Pendiri Bangsa, Insya Allah akan dapat diwujudkan bersama-sama.
Pada bagian akhir sambutan saya ini, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada segenap panitia pelaksana HUT ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia, di mana pun berada, di seluruh Nusantara. Dengan kerja keras Panitia, tahun ini kita memulai sebuah tradisi yang mengajak seluruh Insan Bakrie dapat membangkitkan rasa “Keindonesiaan”-nya lebih dalam lagi; bukan saja dengan ikut serta dalam upacara bendera, tetapi juga dalam memaknai kemerdekaan ini dengan sungguh-sungguh, sehingga kita semua dapat memahami bahwa ada “tugas besar” yang kita emban bersama membangun negeri tercinta ini, mulai dari membangun diri sendiri.
Salam Untuk Negeri!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 17 Agustus 2011
Group Chairman
Nirwan D. Bakrie