Tuesday, Aug 23, 2011
BNBR Catat Laba Bersih, Muluskan Rencana Kuasi Reorganisasi
by Humas BNBR
JAKARTA, 19 Agustus 2011 - PT Bakrie & Brothers Tbk (“BNBR” atau “Perseroan”) mulai mengukir prestasi gemilang. Setelah mencatatkan rugi bersih di tahun-tahun sebelumnya, pada semester pertama tahun ini BNBR mulai sukses kembali membukukan laba. Laporan keuangan BNBR semester pertama 2011 memperlihatkan indikator-indikator finansial yang positif. Catatan positif perolehan laba bersih pada semester pertama ini secara relevan diharapkan akan memuluskan rencana Perseroan melakukan kuasi reorganisasi yang ditargetkan akan tuntas sebelum tutup tahun 2011.
“Laba bersih kami naik signifikan, mencapai 127% jika disbanding perolehan pada semester pertama tahun lalu, yang berasal dari laba bersih kegiatan investasi dan penghapusan bunga karena pelunasan hutang yang lebih cepat dari seharusnya. Pendapatan kami juga meningkat, meskipun pada periode ini kami tidak lagi mengonsolidasi pendapatan dari Bakrie Sumatera Plantations (UNSP). Peningkatan ini didorong oleh pendapatan dari sektor perdagangan, sementara nilai investasi Perseroan juga naik.
Kerja keras kami membuahkan hasil,” kata Bobby Gafur Umar, Direktur Utama BNBR kepada wartawan di Jakarta, Jumat (19/8).
Laporan Keuangan BNBR per Juni 2011 kali ini memang jauh lebih “biru” dibanding periode sebelumnya. Semester pertama 2010 saja, misalnya, BNBR masih harus menanggung rugi bersih hingga Rp.172 miliar. Bahkan, Laporan Keuangan triwulan pertama 2011 pun masih mencatatkan kerugian bersih hingga Rp.281,4 miliar. “Tapi di penghujung Juni 2011 ini, seperti tercatat dalam Laporan Keuangan BNBR yang hari ini kami rilis ke publik, BNBR sudah bisa meraup laba bersih Rp.45 miliar,” kata Bobby
menjelaskan.
Menurut Bobby, catatan positif perolehan laba bersih tersebut akan mendukung penuntasan rencana kuasi reorganisasi yang saat ini tengah dimatangkan oleh Perseroan. Kuasi reorganisasi itu sendiri diharapkan bisa dituntaskan sebelum tutup tahun 2011 ini. Dengan Kuasi Reorganisasi, Perseroan akan menghapus saldo defisit sekitar Rp.35 triliun. Jumlah ini terutama akibat dari akumulasi kerugian BNBR pada krisis finansial 2008 silam serta kerugian investasi di entitas sepengendali. “Kerugian ini terutama disebabkan oleh jatuhnya harga-harga saham pada tahun 2008 lalu,” ujar Bobby.
Dengan kuasi reorganisasi, menurut Bobby, Perseroan akan memperbaiki struktur ekuitas dengan eliminasi defisit dan menilai kembali seluruh aset serta kewajiban sesuai dengan nilai wajarnya. “Selain itu, dengan bersihnya neraca dari defisit, Perseroan akan memiliki kesempatan membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya di masa datang. Ini akan menjadi daya tarik bagi investor untuk memiliki saham Perseroan. Kami sedang terus berproses. Setelah kami mengumumkan Laporan Keuangan ini, Surat Pemberitahuan tentang rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa akan disampaikan kepada regulator, diikuti dengan penyampaian dokumen keterbukaan dan opini kepada Bapepam-LK,” ujarnya.
Positif dan Optimis
Dijelaskan juga oleh Bobby, indikator dan catatan lain dalam Laporan Keuangan Perseroan per Juni 2011 ini juga telah memberikan harapan kinerja yang jauh lebih positif dan optimistis. Perolehan pendapatan berhasil ditingkatkan 7% jika dibanding semester pertama tahun lalu. Seperti juga pada catatan Laporan Keuangan Perseroan tahun lalu dan triwulan pertama tahun ini, sebagian besar atau 57% dari pendapatan Perseroan, disumbang oleh sektor perdagangan, melalui Bakrie Energy International.
Kenaikan “core portfolio” BNBR yang ditopang oleh apresiasi harga saham-saham secara siginifikan dari Rp.7,432 triliun per Desember 2010, menjadi Rp.10,781 triliun per Juni 2011 lalu, juga membawa pengaruh positif pada peningkatan portofolio investasi jangka pendek. Peningkatan portofolio investasi sebesar 57% ini sekaligus mendukung kenaikan current assets Perseroan hingga 20% dalam kurun waktu yang sama. “Dengan dilanjutkannya rencana penurunan kewajiban jangka pendek yang diharapkan rampung di akhir kuartal ketiga atau awal kuartal ke empat, posisi hutang BNBR diproyeksikan akan menurun secara cukup signifikan sebelum akhir tahun 2011,” kata Bobby.
Di samping itu, usaha Perseroan untuk menurunkan beban hutang sudah mulai membuahkan hasil. Tingkat hutang Perseroan (induk) turun 6%, dari Rp. 9,120 triliun pada akhir tahun 2010 menjadi Rp. 8,573 triliun pada akhir semester pertama tahun 2011. Demikian pula rasio hutang terhadap ekuitas, juga membaik menjadi 73,79% dari sebelumnya 241,15% pada akhir 2010 lalu.
Kenaikan core portfolio dan peningkatan net income juga berdampak positif pada naiknya ekuitas Perseroan hingga 6,61%. Jika per 31 Desember 2010 ekuitas Perseroan tercatat Rp.13,647 triliun, maka per 30 Juni 2011 lalu sudah mencapai Rp.14,557 triliun.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Media Relations: Siddharta Moersjid, Director, siddharta.moersjid@bakrie.co.id
Investor Relations : Indra Ginting, Chief Investor Relations Officer, indra.ginting@bakrie.co.id
Kunjungi www.bakrie-brothers.com