Tuesday, Oct 11, 2011
Menilai Kinerja BNBR Pasca Kuasi Reorganisasi
by Kontan
JAKARTA - Proses kuasi reorganisasi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) semakin mendekati final. Perusahaan yang dikendalikan keluarga Bakrie ini, tinggal mendapatkan persetujuan dari para kreditur untuk melaksanakan kuasi reorganisasi. Gonthor R. Aziz, Kepala Biro Sektor Jasa Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), menuturkan persetujuan kreditur wajib diperoleh. Pasalnya, "Ekuitas bisa turun, maka debt to equity ratio (DER) akan bertambah," papar dia, Jumat (7/10) lalu.
Kalau sudah mendapatkan persetujuan kreditur, BNBR tinggal mengesahkan perubahan anggaran dasar ke Kementerian Hukum dan HAM. Setelah itu, rangkaian proses kuasi reorganisasi BNBR akan selesai. Gonthor memaparkan, penurunan ekuitas tersebut bisa terjadi karena BNBR melakukan kuasi reorganisasi dengan menurunkan nilai modal ditempatkan serta modal disetor penuh. Caranya dengan menurunkan nilai nominal saham perseroan ini.
Berdasarkan prospektus kuasi reorganisasi, BNBR memotong nominal saham seri A dari Rp 5.000 per saham menjadi Rp 2.850. Sementara saharn seri B turun dari Rp 700 menjadi Rp 399 dan saham seri C dari Rp 200 menjadi Rp 144 per saham. Dus, modal dasar BNBR turun dari semula Rp 80 triliun menjadi Rp 45,60 triliun. Sedang modal ditempatkan dan disetor penuh tinggal Rp 12,26 triliun, dari Rp 21,51 triliun.
DER turun
Tapi BNBR menjamin tidak terjadi kenaikan DER. Untuk mengatasi penurunan ekuitas tersebut, BNBR telah melakukan revaluasi aset. Hasilnya, aset tetap bersih perseroan ini naik Rp 1,13 triliun. Hal ini membuat ekuitas bersih perseroan ini naik menjadi Rp 15,69 triliun. Untuk catatan, per Juni 2011, ekuitas bersih BNBR cuma Rp 14,56 triliun.
Dengan kenaikan ekuitas ini, BNBR memastikan DER perseroan ini tidak akan naik. "Setelah kuasi DER tetap di bawah satu kali," kata Direktur Keuangan BNBR Eddy Suparno, Minggu (9/10).
Perhitungan tersebut didapat jika hanya menghitung DER dari utang BNBR saja, tanpa mengonsolidasikan utang anak usaha. Namun menurut Arief Fahruri, Analis Mega Capital Indonesia, sebaiknya DER dihitung menggunakan total kewajiban konsolidasi, termasuk utang anak usaha. Per akhir Juni 2011, total kewajiban BRBR Rp 19,61 triliun. Dengan begitu, maka DER perseroan ini akan menjadi 1,24 kali setelah kuasi reorganisasi. Besaran DER tersebut turun dibandingkan DER sebelum aksi bersih-bersih laporan keuangan yang mencapai 1,35 kali.
Walhasil, perseroan ini masih memiliki keleluasaan untuk mencari pinjaman bila ingin melakukan ekspansi. Per Juni 2011, utang BNBR mencapai Rp 12,53 triliun. Sekadar mengingatkan, melalui kuasi reorganisasi ini BNBR berniat menghapus defisit sebesar Rp 27,66 triliun. Perseroan ini juga ingin menghapus selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali sebesar Rp 5,27 triliun dan rugi investasi jangka pendek Rp 2,06 triliun.
BNBR sudah mengajukan rencana kuasi reorganisasi pada Bapepam-LK sejak Mei 2011 lalu. Namun wasit pasar modal tersebut sempat memirtta perseroan mengkaji lagi rencana aksi korporasi tersebut. Pasalnya, saat itu BNBR masih mencetak kemgian dalam laporan keuangannya.
Selanjutnya, pengêlola BNBR telah menyiapkan strategi agar tidak mengalami rugi pasca kuasi reorganisasi. Jurus yang disiapkan adalah fokus mengembangkan industri sumber daya alam, industri infrastruktur dan mengurangi nilai utang. []