Monday, Oct 24, 2011
Bumi Prioritaskan Buyback 200 Juta Saham
by Indonesia Finance Today
JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI), produsen batu bara terbesar, berencana membeli kembali (buyback) sekitar 200 juta saham setelah pemegang saham menyetujui perseroan melakukan buyback hingga 780 juta saham atau sekitar 3,75% dari total saham beredar, menurut direksi perseroan. Pembelian kembali saham tersebut merupakan antisipasi jika perseroan memutuskan untuk menebus obligasi konversi (convertible bond) tahun depan.
Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, mengatakan mayoritas pemegang saham yang hadir dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Jumat menyetujui rencana perseroan melakukan buyback hingga 3,75% saham. "Yang mendesak untuk direalisasikan sekitar 200 juta saham dengan nilai sekitar US$ 60 juta-US$ 70 juta," ujarnya.
Saat ini Bumi memiliki saham cadangan (treasury stock) sebanyak 470 juta-480 juta saham. Dengan adanya tambahan saham hasil buyback sebanyak 200 juta saham, menurut Dileep, perseroan mampu menebus obligasi konversi senilai US$ 375 juta tahun depan.
Dileep tidak menyebutkan secara spesifik mengenai obligasi konversi yang akan diselesaikan tahun depan. Namun, dalam laporan keuangan Bumi tercatat adanya obligasi konversi senilai US$ 375 juta dengan bunga 9,25% yang diterbitkan pada 2009 oleh anak usaha, Enercoal Resources Pte Ltd, dan dijamin oleh perseroan. Dalam penerbitan tersebut Credit Suisse Limited bertindak sebagai agen penempatan (placement agent). Obligasi yang dijamin ini akan jatuh tempo pada 5 Agustus 2014 dan dapat ditukar dengan saham Bumi dengan harga konversi sebesar Rp 3.366,9 per saham, yang dapat disesuaikan.
Menurut Dileep, untuk merealisasikan buyback, perseroan akan menggunakan dana internal yang berasal dari saldo laba ditahan. Periode buyback berlangsung 18 bulan sejak persetujuan pemegang saham. "Pembelian itu nantinya dipatok pada saat harga pasar di hari penutupan transaksi. Nanti, waktu transaksinya akan kami informasikan," ujarnya.
Berdasarkan prospektus, Bumi akan melakukan buyback sebanyak-banyaknya 780 juta saham dengan harga maksimal Rp 5.000 per saham.
Latar belakang buyback adalah untuk mengefisienkan struktur permodalan, sehingga perseroan dapat menurunkan keseluruhan biaya modal dan meningkatkan laba per saham dan tingkat pengembalian. "Buyback ini juga memberikan perseroan kesempatan dan fleksibilitas untuk mendapatkan pembiayaan dalam bentuk utang yang bersifat ekuitas (equity linked), seperti covertible bond," kata Dileep.
Menurut Departemen Riset IFT, dengan menggunakan price to earning ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 16 kali serta laba bersih Bumi di semester I sebesar Rp 113,5 (kurs Rp 8.800 per dolar Amerika Serikat) yang disetahunkan, harga wajar saham perseroan sekitar Rp 3.600. Artinya, harga maksimal pembelian kembali yang dicantumkan dalam prospektus lebih tinggi 38,9% dari harga wajar dan 127% di atas harga saham Bumi pada penutupan Jumat sebesar Rp 2.200.
Terkait prioritas Bumi untuk membeli kembali 200 juta saham dari yang diizinkan sebanyak 780 juta saham, kemungkinan ada hubungannya dengan kondisi keuangan perseroan yang hanya memiliki kas US$ 60,39 juta per akhir Juni. Jumlah saham yang dibeli kembali mencerminkan 1% dari jumlah saham beredar Bumi yang berkisar 20 miliar saham.
Harga Stabil
Bumi, ekportir batu bara terbesar, memproyeksikan harga jual perseroan tahun depan tidak jauh berbeda dari tahun ini yang berkisar US$ 90 per ton. Proyeksi ini berdasarkan masih tingginya permintaan dunia terhadap komoditas tersebut.
Menurut Dileep, sejauh ini belum ada gangguan permintaan dari China akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi negara pengimpor batu bara terbesar tersebut. "Harga bahkan akan naik kembali jika ada masalah pasokan di Australia akibat cuaca yang buruk. Tapi itu tidak dapat diprediksi," ujarnya.
Ari S Hudaya, Direktur Utama Bumi Resources, memperkirakan harga batu bara di Newcastle, Australia tahun depan berada di kisaran US$ 120 per ton untuk batu bara termal. "Indikasi harga itu berdasarkan terus mengguatnya permintaan dari sejumlah negara untuk kebutuhan pembangkit listrik," kata Ari.
Bumi Resources menargetkan produksi tahun depan mencapai 75 juta ton, naik 13,6% dari proyeksi tahun ini 66 juta ton. []