Thursday, Dec 22, 2011
Belanja Modal Bakrie Telecom 2012 Sekitar US$ 140 Juta
by Indonesia Finance Today
JAKARTA - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), emiten telekomunikasi dan operator Esia, menganggarkan belanja modal sekitar US$ 140 juta pada tahun depan. Sebesar 60% dari belanja modal tersebut akan digunakan untuk mengembangkan layanan data. PT Bakrie Telecom memperkirakan hingga 2016 proporsi belanja modal perusahaan tidak berubah, yakni 60% untuk mengembangkan layanan data. Pada tahun depan, perusahaan berencana melanjutkan ekspansi layanan data yang dimulai sejak dua tahun lalu.
Perusahaan akan melakukan perluasan infrastruktur backbone serat optik, penambahan base transceiver station (BTS) berteknologi Evolution Data Optimized (EVDO), penambahan kapasitas jaringan, pengembangan aplikasi, dan pembelian perangkat konsumen. Jastiro Abi, Wakil Direktur Utama Bidang Keuangan PT Bakrie Telecom, mengatakan belanja modal tahun depan tidak akan lebih besar dari belanja modal tahun ini yang diestimasikan mencapai US$ 140 juta.
Hingga akhir September 2011 realisasi belanja modal perusahaan mencapai US$ 120 juta. Sekitar US$ 100 juta digunakan untuk mengembangkan jaringan dan kualitas layanan data, terutama layanan broadband dan konten video. "Kami belum berniat menerbitkan obligasi baru untuk sumber pendanaan belanja modal tahun depan, karena jatuh tempo obligasi masih di September 2012," kata Jastiro, Rabu.
Menurut Jastiro, saat ini pendapatan layanan suara terus menurun sehingga Bakrie Telecom akan fokus pada layanan data. Mengutip data Cisco, pengguna internet di Indonesia diprediksi meningkat lima kali lipat pada 2015.
Salah satu strategi perusahaan adalah mengoptimalkan pasar internet yang ada tersebut. Perusahaan melakukan pendekatan terhadap pasar data dengan menawarkan harga paket data yang terjangkau, tetapi berkualitas.
Melalui anak usaha di bidang layanan data, PT Bakrie Connectivity (BConnect), perusahaan memasarkan layanan internet berkecepatan tinggi dengan brand AHA. Saat ini layanan AHA mempunyai 300 ribu pelanggan, dari 14,4 juta pelanggan Bakrie Telecom di kuartal III tahun ini.
Perusahaan memperoleh rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) layanan data sebesar Rp 60 ribu-Rp 80 ribu per bulan. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan ARPU layanan reguler suara yang tercatat Rp 40 ribu per pengguna.
Berdasarkan kinerja kuartal II 2011, Bakrie Telecom mencatat kenaikan pendapatan sebesar 0,4% menjadi Rp 1,72 triliun dari periode sama tahun lalu. Beban usaha perusahaan tercatat naik 16% menjadi Rp 1,39 triliun dari Rp 1,2 triliun. Perusahaan mengalami rugi usaha sebesar Rp 18,2 miliar di kuartal II.
Indosat dan XL
Emiten telekomunikasi lainnya, PT Indosat Tbk (ISAT), memperkirakan belanja modal pada tahun depan sekitar Rp 8,5 triliun. Perusahaan akan meningkatkan kualitas dan layanan data yang tumbuh signifikan dalam rencana kerja di tahun depan. Hingga kuartal III 2011, realisasi belanja modal Indosat mencapai Rp 6 triliun.
Harry Sasongko, Presiden Direktur PT Indosat, mengatakan perusahaan memproyeksikan bisnis data pada 2012 tumbuh minimal 50%. Penggunaan layanan data yang tinggi menyebabkan kapasitas jaringan operator cepat penuh. Oleh karena itu, perusahaan akan menambah kapasitas jaringan, khususnya untuk mengantisipasi pertumbuhan pengguna layanan data perusahaan.
Emiten lainnya, PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengestimasi anggaran belanja modal tahun depan akan sama dengan tahun ini, yakni sekitar Rp 6 triliun. Dana tersebut dianggarkan dari laba sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) di tahun ini yang diperkirakan sekitar Rp 9 triliun.
Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur PT XL Axiata, menyatakan perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun depan sebesar 6%-8% menjadi Rp 20,5 triliun. Kontribusi pendapatan di tahun depan diperkirakan berasal dari pertumbuhan layanan data dan pesan singkat (SMS) yang mengompensasi penurunan pendapatan layanan suara.
Pada penutupan perdagangan Rabu, harga saham Bakrie Telecom turun 2% menjadi Rp 245. Sementara harga saham XL naik 2,38% menjadi Rp 4.300 dan harga saham Indosat naik 1,89% menjadi Rp 5.400. []