Wednesday, Sep 17, 2014
RI Keruk 50 Juta Ton Batu Bara Sampai Agustus
Ada 74 PLTU ini bawah PLN batu bara tahun ini kebutuhannya 72 juta ton

Wednesday, Sep 17, 2014
Industri Keuangan Bersiap Menyambut Pesatnya Miliarder Indonesia
Melihat komponen investasi para miliarder Indonesia, yang dikenal dengan High-Net-Worth Individuals, properti dan saham dua alokasi investasi favorit.

Wednesday, Sep 17, 2014
Duh, Kontraktor Nasional Bakal Tersingkir di ASEAN
Untuk diketahui, menurut data BCI Asia, pasar konstruksi Nasional tahun ini diprediksi senilai Rp 604 triliun.

Wednesday, Sep 17, 2014
Indonesia dan Malaysia Rebutan Pasar Minyak Sawit India
Kedua negara tersebut tengah bersaing soal kebijakan ekspor, membuat India menjadi penampung pasokan minyak sawitnya.



BNBR 50.00 0.00%
BRAU 132.00 +3.13%
BRMS 417.00 +0.97%
BTEL 50.00 0.00%
BUMI.JK 191.00 +2.14%
DEWA 50.00 0.00%
ELTY 50.00 0.00%
ENRG 98.00 +1.03%
MDIA.JK 1,850.00 0.00%
UNSP 50.00 0.00%
VIVA 427.00 +2.16%
On Wednesday, Sep 17, 2014 10:35




Thursday, Jan 19, 2012
Harga Karet Bisa Mencapai US$4,5 per Kilogram
by Indonesia Finance Today
JAKARTA – Harga karet, Rabu mencatat level tertinggi dalam sepuluh pekan terakhir di level US$ 3,859 per kilogram. Sutan Asril Amir, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia, mengatakan kenaikan harga karet diperkirakan berlanjut dan berpotensi mencapai level US$ 4,5 per kilogram. Namun, harga karet juga masih dipengaruhi kondisi krisis ekonomi di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Sutan menjelaskan harga karet tahun ini diperkirakan US$ 3,5-US$ 4,5 per kilogram. Pada perdagangan Rabu, harga karet untuk kontrak pengiriman Juni, di Bursa Berjangka Tokyo, seperti dikutip Bloomberg, naik 1,8% ke level US$ 3,859 per kilogram. Harga karet mencapai level tertinggi sejak 4 November 2011.

Ada beberapa faktor pendorong kenaikan harga. Antara lain suplai dan permintaan karet dunia, kenaikan harga minyak mentah, kebijakan pemerintah Thailand yang membeli harga karet petani di atas harga pasar, dan stok karet dunia yang menipis. Stok karet dunia saat ini turun menjadi 20 ribu ton dari 60 ribu ton dan diperkirakan akan habis terpakai pada Februari.

Pulihnya industri otomotif di Amerika Serikat juga mendorong kenaikan harga. Industri otomotif di Amerika Serikat mulai pulih meski permintaan karet dari Uni Eropa masih dalam tekanan resesi. Uni Eropa dan Amerika Serikat adalah konsumen utama karet dunia sehingga pelemahan ekonomi di wilayah itu akan mempengaruhi penurunan permintaan dan harga karet dunia.

Aziz Pane, Ketua Dewan Karet Indonesia, menjelaskan kenaikan harga karet paling lama bertahan hingga kuartal II karena perekonomian dunia tidak terlalu bagus, terutama di Amerika Serikat, China, dan Eropa. Stabilitas politik juga menjadi faktor yang harus diwaspadai karena ada suksesi kepemimpinan di Amerika Serikat dan China. “Pergerakan politik akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara-negara itu. Eksportir karet jangan terlalu optimistis dengan kondisi harga karet saat ini,” jelas dia.

Dia juga menilai intervensi pemerintah Thailand hanya sementara untuk mengurangi aksi penyelundupan karet ke China. Pemerintah Thailand, seperti dikutip Bloomberg, Rabu, mengumumkan rencana membeli karet petani di atas harga pasar sehingga harga karet di negara itu stabil di kisaran 120 baht per kilogram.

Kittiratt Na-Ranong, Deputi Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan Thailand, mengatakan pemerintah akan mengucurkan dana 17 miliar baht atau US$ 472 juta. Anggaran akan diajukan ke kabinet untuk diminta persetujuan pada pekan depan.

Ker Chung Yang, analis Phillips Futures Pte, seperti dikutip Bloomberg, Rabu, mengatakan kebijakan Thailand dan kenaikan harga minyak mentah mendorong kenaikan harga. Harga karet pada tahun lalu turun 29% (year-on-year). Sementara sejak awal tahun, harga sudah naik 10%.

Faktor lain yang mendorong kenaikan harga adalah potensi penurunan produksi di Thailand dan Indonesia akibat curah hujan yang tinggi. Dua negara ini penyuplai 60% produksi karet dunia.

International Rubber Study Group, memperkirakan produksi karet global tahun ini meningkat 5,1% menjadi 11.42 juta ton dari tahun 2011 sebesar 10,86 juta ton. Kenaikan produksi memperkecil defisit tahun ini menjadi 77 ribu ton dari 2011 sekitar 131 ribu ton.

Aziz sepakat produksi karet dunia tahun ini masih sulit mengimbangi permintaan sehingga ada kekurangan suplai. Dia meminta pemerintah menghapus bea keluar karet karena merugikan petani.

Harga jual karet ekspor bergantung pada harga karet global. Penerapan bea keluar membuat eksportir menekan harga di tingkat petani untuk mengompensasi biaya. Harga jual karet di petani saat ini berkisar Rp 1.500-Rp 1.800 per kilogram, stagnan sepanjang tiga bulan terakhir. []