Thursday, Feb 2, 2012
Indonesia Kecanduan Impor
by Media Indonesia
Selama 2011 Indonesia dibanjiri barang barang impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahun lalu mencapai US$177,3 miliar atau meningkat 30,69% (US$41,64 miliar) ketimbang 2010, US$135,66 miliar. Pjs Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyatakan peningkatan terbesar, 48,42%, terjadi pada impor migas. Impor nonmigas meningkat 26,2%, dari US$108,25 miliar menja di US$136,61 miliar. “Jika dilihat dari peranan terhadap total impor nonmi gas, impor mesin dan peralatan mekanik memberikan peranan terbesar, yaitu 18,06%,“ ujarnya di Jakarta, kemarin.
Lebih jauh Suryamin menjelaskan dari total impor itu, impor bahan baku/penolong mendominasi dengan nilai US$130,84 miliar (73,8%). “Ini berarti industri dalam negeri masih bagus,“ katanya. Adapun impor barang konsumsi hanya US$13,39 miliar atau 7,55% (lihat grafik). Pada kesempatan itu Suryamin juga menyatakan nilai ekspor naik 29,05% dari tahun sebelumnya dan sekaligus menembus US$203,62 miliar. Ekspor tertinggi pada komoditas bahan bakar mineral sebesar US$27,44 miliar dan lemak minyak hewani nabati US$21,66 miliar.
BPS juga mencatat neraca perdagangan selama Januari Desember 2011 mengalami surplus US$26,32 miliar. Indonesia surplus perdagangan nonmigas dengan ASEAN dan Uni Eropa, tetapi mengalami defisit perdagangan dengan China senilai US$239,4 juta, dengan Jepang US$247,7 juta, Australia US$124,1 juta, dan Korea Selatan US$38,8 juta. Tidak berkualitas Menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dominasi impor bahan baku/penolong menunjukkan negara sedang membangun perekonomiannya.
“Peningkatan ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bahan-bahan yang belum bisa diproduksi,“ jelasnya. Namun, pengamat ekonomi Hendri Saparini menilai tingginya impor barang konsumsi dan bahan baku penolong itu merupakan bukti pemerintah salah strategi dalam mengembangkan hilirisasi industri. Hal itu akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berkualitas. “Kalau impor dianalisis, kebanyakan barang konsumsi dan setengah jadi, artinya di hilirisasi industri ada step (langkah) yang lewat,“ tukasnya. Dengan kata lain, lanjutnya, pemerintah hanya mendorong sektor hulu dan ingin melakukan hilirisasi industri, tetapi melupakan sektor yang ada di antaranya.
“Kita punya CPO (crude palm oil/minyak sawit mentah) yang kita ekspor. Terus kita malah impor bahan setengah jadi sampo, baru kita produksi sampo curah. Itu kan ada yang jumping hilirisasi industrinya,“ jelasnya. Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Natsyir Mansyur. “Sekarang yang harus digalakkan program hilirisasi industri untuk mendukung industri manufaktur supaya dapat menghasilkan bahan baku,“ tuturnya. []