Wednesday, Feb 22, 2012
Volatilitas 25 Saham Unggulan Lampaui Indeks
by Indonesia Finance Today
JAKARTA – Tingkat volatilitas 25 saham unggulan di daftar LQ45 lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan dari awal tahun hingga awal pekan ini, berdasarkan nilai beta harian di Bloomberg. Menurut perhitungan Departemen Riset IFT, tingkat volatilitas saham emiten batu bara lebih tinggi dibandingkan saham dari industri lain.
Lima saham dengan nilai beta tertinggi adalah PT Indika Energy Tbk (INDY) dengan beta 1,87, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) beta 1,58, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) beta 1,53, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) beta 1,52, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) beta 1,36.
Menurut Departemen Riset IFT, tingkat volatilitas saham pertambangan meningkat karena lebih aktif ditransaksikan investor setelah sempat mengalami ketertinggalan pada 2011. Investor mulai mengapresiasi saham-saham batu bara pada 2012 karena harga sumber energi alternatif ini sedang dalam tren meningkat.
Lima saham di daftar LQ45 dengan nilai beta di bawah satu adalah saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan beta 0,43, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) beta 0,50, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) beta 0,58, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) beta 0,62, dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) beta 0,62.
Volatilitas saham-saham agribisnis khususnya produsen minyak sawit mentah (CPO) tercatat lebih rendah dibandingkan Indeks. Pada 2011, harga saham produsen CPO sama seperti saham pertambangan yang mengalami ketertinggalan karena terpengaruh fluktuasi harga minyak sawit dunia.
Saham-saham dengan beta lebih dari satu menunjukkan tingkat volatilitas lebih tinggi dibandingkan Indeks. Saat Indeks naik 1% maka saham dengan nilai beta di atas satu akan naik lebih dari 1%. Contohnya, pada saat Indeks naik 1% maka harga saham Indika Energy dengan beta 1,87 akan naik lebih tinggi 87% dari kenaikan Indeks. Sebaliknya, saat Indeks terkoreksi, penurunan harga saham Indika juga lebih tinggi dibanding Indeks.
Sementara, saham dengan nilai beta di bawah satu akan memiliki tingkat volatilitas lebih kecil dibanding Indeks. Contohnya, saat Indeks naik 1% maka kenaikan harga saham Kalbe Farma dengan beta 0,43 akan lebih kecil 43% dibandingkan kenaikan Indeks.
Jeffrosenberg Tan, Head of Research PT Sinarmas Sekuritas, mengatakan pergerakan lima saham dengan beta di atas satu belum tentu volatile hingga akhir tahun. Khusus saham pertambangan, saat ini sedang dalam tren menguat karena sempat tertinggal pada 2011 dan kinerja emiten pertambangan kemungkinan membaik di 2012.
Namun, krisis utang Eropa masih menjadi pertimbangan investor mentransaksikan saham di bursa domestik, sehingga pelaku pasar masih sering keluar-masuk saham-saham pertambangan. "Sektor pertambangan tengah meningkat setelah menurun paling dalam di sepanjang 2011,” kata Jeffrosenberg.
Saham Indika Energy sebenarnya dinilai kurang menarik karena fokus bisnis yang terlalu besar. Indika Energy, melalui anak usahanya PT Indika Indonesia Resources dan Indika Capital Pte Ltd, baru saja mengakuisisi 85% saham dan hak pemasaran batu bara PT Multi Tambangjaya Utama senilai US$ 132 juta. Jeffrosenberg melanjutkan volatilitas saham Indocement yang lebih tinggi dibandingkan Indeks dipicu akumulasi beli investor setelah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Publik. Permintaan semen diperkirakan akan meningkat karena kebutuhan yang besar untuk pembangunan infrastruktur. Adapun saham Unilever masih diapresiasi investor karena memiliki fundamental yang baik dan pertumbuhan yang terus prospektif, meskipun valuasi sudah bergerak di kisaran premium.
Cenderung Menguat
Ahmad Sujatmiko, Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mengatakan pergerakan harga saham dengan beta di bawah satu relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Harga tiga saham produsen CPO, Bakrie Sumatera, London Sumatra, dan Astra Agro relatif stabil dari awal tahun hingga awal pekan ini.
Harga saham agribisnis tidak terlalu volatile karena harga CPO dunia cenderung naik dan diikuti pergerakan harga sahamnya. “Saham seperti Bakrie Sumatera, London Sumatra, dan Astra Agro biasanya cukup fluktuatif. Namun, pergerakan harga komoditas dunia yang cenderung naik membuat pergerakan ketiga harga saham ini cenderung stabil di sepanjang 2012,” kata Ahmad.
Pergerakan saham Krakatau Steel yang relatif stabil karena harga baja dunia cenderung naik. Sementara itu, harga saham Kalbe Farma tidak terlalu volatile karena karakternya defensif. []