Friday, Aug 22, 2014
Kenaikan NJOP Bikin Harga Properti di Jakarta Melambung Tinggi
Tahun ini, diprediksikan akan menjadi tahun yang Challenging bagi beberapa industri di Indonesia, termasuk properti.

Friday, Aug 22, 2014
Pengelolaan Bisnis Energi Tantangan di MEA
Ketimbang negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia paling menyedot energi minyak dan gas bumi. Total kebutuhan energi di ASEAN, Indonesia menyerap 36%

Friday, Aug 22, 2014
Riau Jadi Pusat Industri Sawit Nasional
Dengan raihan yang dicapai oleh subsector perkebunan di Riau ini menjadi beban yang besar agar bagaimana caranya industri ini dapat terus berkembang.

Thursday, Aug 21, 2014
Pekan Ini, Harga Sawit Turun
Harga CPO ditetapkan Rp7.674,54/kg sebelumnya Rp8.046,08/kg dan PKO Rp4.793,11/kg sebelumnya Rp5.002,33/kg.



BNBR 50.00 0.00%
BRAU 110.00 +0.92%
BRMS 269.00 -1.47%
BTEL 50.00 0.00%
BUMI.JK 181.00 0.00%
DEWA 50.00 0.00%
ELTY 50.00 0.00%
ENRG 89.00 +2.30%
MDIA.JK 1,850.00 0.00%
UNSP 50.00 0.00%
VIVA 294.00 -1.67%
On Friday, Aug 22, 2014 10:13




Wednesday, Mar 28, 2012
Kinerja Pasar Bepotensi Tertekan
by Indonesia Finance Today
JAKARTA - Kalangan pasar modal memprediksi kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mempengaruhi kinerja pasar saham domestik. Besaran kenaikan harga BBM bersubsidi sudah disesuaikan pasar (priced in) dengan dampak inflasi yang akan ditimbulkan.

Satrio Utomo, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, mengatakan pasar positif jika pemerintah menetapkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 6.000 per liter. Namun akan timbul reaksi sebaliknya jika besaran kenaikan melebihi angka tersebut.“Kinerja pasar saham akan terkoreksi jika besaran kenaikan harga BBM bersubsidi di atas ekspektasi pasar,” kata Satrio.

Sentimen pasar juga akan negatif seandainya pemerintah belum menetapkan atau menunda kenaikan harga BBM bersubsidi. Psikologis investor akan diliputi kecemasan terhadap ketidakpastian ekonomi jika pemerintah menunda atau membatalkan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Meski demikian, lanjut Satrio, kinerja pasar saham hingga akhir 2012 masih diproyeksikan tumbuh ke level 4.500 poin-4.700 poin. Makro ekonomi Indonesia relatif masih solid dan laju inflasi masih diperkirakan masih bisa dikendalikan.

Pemerintah mengusulkan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun Badan Anggaran DPR belum menyetujui usulan pemerintah tersebut. Rencananya, hari ini kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut akan diputuskan dalam Rapat Paripurna.

Kinerja pasar modal Indonesia relatif tidak terpengaruh terhadap wacana kenaikan harga BBM bersubsidi karena sentimen eksternal mendorong penguatan Indeks. Pada penutupan perdagangan kemarin, Indeks ditutup menguat 1,18% ke level 4.079,38, atau level tertinggi pada awal 2012.

Penguatan Indeks didorong sentimen eksternal. Ben Bernanke, Gubernur The Federal Reserve (The Fed), menyatakan akan menerapkan kebijakan moneter yang mendukung penciptaan lapangan kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Pernyataan tersebut diterjemahkan investor sebagai rencana The Fed menggulirkan kebijakan quantitative easing tahap ketiga.

Satrio mengatakan investor kemungkinan akan mengakumulasi beli saham-saham berkapitalisasi besar jika kenaikan harga BBM bersubsidi sesuai ekspektasi pasar. “Saham-saham perbankan, barang konsumsi, properti dan otomotif berpeluang diburu oleh investor,” kata Satrio.

Bagus Hananto, Kepala Riset PT Onix Capital, memproyeksikan kinerja pasar saham Indonesia berpotensi tertekan dalam jangka pendek karena kenaikan harga BBM bersubsidi. Faktor kenaikan inflasi menjadi salah satu pertimbangan investor bertransaksi di pasar saham.

“Pengaruhnya hanya terasa dalam jangka pendek. Sentimen domestik negatif hanya bersifat sementara. Kinerja pasar saham masih berpeluang tumbuh setelah kuartal II karena pertumbuhan ekonomi dan pergerakan bursa regional cenderung positif setelah meredanya krisis utang Eropa,” jelas Bagus.

Laju Inflasi

Andrew Argado, Analis PT E-trading Securities, mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi mendorong inflasi 1,3%-1,4% pada Maret. Harga bahan-bahan pokok di pasar cenderung sudah beranjak naik sejak awal Maret meskipun pemerintah belum memutuskan besaran kenaikan harga BBM bersubsidi. Kenaikan inflasi tersebut masih akan berpotensi terjadi pada bulan-bulan selanjutnya.

Andrew berpendapat ekspektasi inflasi kemungkinan tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia karena perekonomian Indonesia masih terjaga baik. Pendapatan per kapita Indonesia masih cukup tinggi sehingga konsumsi domestik relatif stabil. Konsumsi domestik merupakan penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2011, PDB Indonesia tumbuh 6,5% dan konsumsi domestik memberi kontribusi tertinggi sebesar 54,6% terhadap pertumbuhan PDB tersebut.

“Sampai dengan Februari, inflasi year-on-year masih relatif rendah yaitu sebesar 3,56%, sedangkan pemerintah menargetkan inflasi year-on-year sampai akhir tahun ini 5,4% plus minus 1%. Artinya, kenaikan inflasi masih belum terlalu berdampak siginikan terhadap pasar saham Indonesia,” kata Andrew.

Pasar saham Indonesia berpotensi terkoreksi jika Bank Indonesia merespons inflasi dengan kebijakan moneter yang ketat dengan menaikkan BI Rate dari level saat ini, 5,75%. Ada peluang kinerja pasar saham cenderung volatile merespons kebijakan tersebut. Kenaikan BI Rate akan berdampak negatif terhadap emiten properti dan perbankan karena akan menekan pendapatan perbankan. Selain itu, biaya produksi (cost-of-production) emiten berpeluang meningkat sehingga bisa menekan pendapatannya.

“Emiten-emiten yang memiliki kewajiban membayar obligasi dengan suku bunga floating juga akan terkena dampak dari kenaikan BI Rate. Dampak ke pasar modal bisa signifikan apabila Bank Indonesia menaikkan BI Rate,” kata Andrew.

Andrew memprediksi dampak kenaikan harga BBM hanya akan berlangsung pada kuartal II. Setelah itu masyarakan akan melakukan penyesuaian terhadap inflasi, karena daya beli masyarakat masih cukup tinggi yang tercermin dari pertumbuhan pendapatan per kapita. Badan Pusat Statistik mencatat pendapatan per kapita Indonesia di 2011 naik 17,7% menjadi US$ 3.542 dibandingkan 2010 sebesar US$ 3.010.  “Saya justru memperkirakan dampak ke pasar saham akan negatif seandainya harga BBM tidak dinaikkan tanpa ada kepastian dari pemerintah untuk menekan defisit anggaran,” tutur Andrew. []