Monday, Jan 26, 2015
DMSI : Produksi CPO Tahun 2015 Capai 31 Juta Ton
Berdasarkan kalkulasi kebutuhan solar dalam negeri mencapai 33 juta kilo liter (KL), maka 10% itu artinya membutuhkan biodiesel sebesar 3,3 juta KL

Monday, Jan 26, 2015
Industri Baja Harapkan Bantuan Pemerintah
Pembangunan infrastruktur menyerap hasil produksi baja nasional, karena aturan peningkatan penggunaan produk dalam negeri sudah ada.

Friday, Jan 23, 2015
Sawit Primadona Ekspor
Ekspor produk sawit Malaysia senilai US$ 19,45 miliar tahun 2013, mengalahkan Indonesia yang hanya sekitar US$ 19,22 miliar.

Friday, Jan 23, 2015
Pasar Modal Indonesia Jadi Incaran Investor Jepang dan Eropa
Khusus sektor properti, demand diprediksi masih akan menanjak meski telah mengalami peningkatan cukup tinggi.



BNBR 50.00 0.00%
BRAU 71.00 0.00%
BRMS 260.00 0.00%
BTEL 50.00 0.00%
BUMI.JK 100.00 0.00%
DEWA 50.00 0.00%
ELTY 50.00 0.00%
ENRG 107.00 +0.94%
MDIA.JK 3,650.00 0.00%
UNSP 50.00 0.00%
VIVA 430.00 -4.44%
On Monday, Jan 26, 2015 09:12




Thursday, Apr 26, 2012
Kebutuhan Alat Berat Konstruksi Hingga 2014 Naik 20%
by Indonesia Finance Today
JAKARTA - Kebutuhan alat berat konstruksi diperkirakan na­ik hingga 20% dalam dua tahun ke de­pan seiring dengan rencana pembangunan infrastruktur nasional. Pe­merintah mengalokasikan dana Rp 1.923 triliun untuk pembangunan infrastruktur hingga 2014.

Bambang Goeritno, Kepala Ba­dan Pembina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, mengatakan dengan naiknya kebutuhan, produsen alat-alat berat konstruksi lokal diharapkan terus bertambah. Hal itu untuk mengantisipasi kekurangan alat berat dalam dua tahun ke depan. “Selama ini produsen lokal hanya ada beberapa saja, ma­yoritas impor dari luar negeri,” ujarnya, Selasa.

Dia menjelaskan, ketersediaan alat-alat berat saat ini belum terpenuhi. Dari kebutuhan 210 ribu unit untuk sepanjang tahun ini,  baru tersedia  mencapai 150 ribu unit.

Angka itu mencakup 168 ribu unit untuk kebutuhan noninfrastruktur dan infrastruktur sebesar 42 ribu unit. Artinya, jika kenaikan diperkirakan mencapai 20%, maka kebutuhan alat berat diprediksi mencapai 252 ribu unit pada 2014.

Suplai tersebut, diperkirakan bisa memenuhi utilitas sebesar 140% dari tingkat permintaan alat berat secara nasional. Sementara itu, jenis sektor konstruksi yang membutuhkan alat berat paling besar misalnya saja energi, pembangunan jalan, dan bangunan gedung.

“Ada beberapa proyek infrastruktur besar yang akan membutuhkan alat berat banyak, misalnya saja pembangunan jembatan Selat Sunda, kereta bawah tanah MRT Jakarta, dan konstruksi green high rise building,” tambah Bambang.

Tiga proyek itu, kata dia, dapat meningkatkan pertumbuhan di sektor konstruksi hingga 15% pada 2014. Pasalnya, tiga megaproyek tersebut membutuhkan biaya investasi yang cukup besar, yaitu Rp 150 triliun untuk Jembatan Selat Sunda dan Rp 17 triliun untuk MRT Jakarta.

Selain alat berat, hingga kini kebutuhan sumber daya konstruksi berupa bahan material juga belum terpenuhi dari produsen lokal sehingga sumbernya masih banyak diimpor dari luar negeri. Lantaran itu, pemerintah kini tengah mengkaji keseimbangan suplay and demand bahan baku itu.

Kementerian Pekerjaan Umum bekerjasama dengan Messe Muen­chen International (MMI) kembali menggelar pameran perdagangan konstruksi dan pertambangan untuk kedua kalinya. Pameran akan dilaksanakan pada 2-5 Mei 2012.

Ronald Unterburger, Managing Director dan CEO MMI Asia Ltd, mengatakan pameran tersebut akan diikuti berbagai negara pelaku jasa konstruksi terbesar seperti China, Jerman, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, dan Singapura. Menurutnya, Conbuilding Mi­ning Indonesia itu akan menjadi forum bisnis khusus bagi pelaku usaha alat berat, mesin, kendaraan, produk, dan teknologi konstruksi. []