Tuesday, Jul 22, 2014
Petani Kian Nelangsa Akibat Penurunan Harga Karet
Kelebihan penggunaan karet dalam proses pengaspalan jalan dapat membantu jalanan lebih awet selama empat tahun.

Tuesday, Jul 22, 2014
Pemerintah Ingin Rusia Jadi Basis Penetrasi CPO RI ke Eropa
Kami menjual produk turunan CPO yang harganya sampai 7 kali lebih murah biaya produksinya dibandingjan dalam diskusi bilateral itu.

Tuesday, Jul 22, 2014
Ramadan Tak Mampu Dorong Permintaan CPO
Memasuki semester I 2014, perdagangan ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Monday, Jul 21, 2014
Gandeng Turki, CPO Indonesia Masuki Pasar Eropa dan Asia Barat
Kami membutuhkan ASEAN dan Indonesia sebagai partner yang saling melengkapi



BNBR 50.00 0.00%
BRAU 92.00 -3.16%
BRMS 250.00 -1.19%
BTEL 50.00 0.00%
BUMI.JK 155.00 -0.64%
DEWA 50.00 0.00%
ELTY 50.00 0.00%
ENRG 89.00 0.00%
MDIA.JK 1,850.00 0.00%
UNSP 50.00 0.00%
VIVA 200.00 -1.48%
On Tuesday, Jul 22, 2014 10:36




Thursday, Jul 5, 2012
FID Blok Masela Harus Tuntas Tahun Ini
by Investor Daily
JAKARTA – Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) meminta Inpex Corporation, operator Lapangan Abadi di Blok Masela (proyek Masela), untuk menyelesaikan keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) tahun ini juga.

Dengan begitu, target operasi proyek pada 2017 bisa terkejar. Wakil Kepala BP Migas Hardiono mengatakan, pengembangan Lapangan Abadi hingga bisa menghasilkan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) membutuhkan waktu sedikitnya enam tahun setelah FID rampung.

“Kalau mengejar target operasi pada 2017, FID harus segera rampung tahun ini,” kata dia di Jakarta, Rabu (4/7). Dengan asumsi FID rampung tahun ini, dia menjelaskan, sebenarnya Lapangan Abadi baru bisa berproduksi pada 2018. Perhitungan tersebut berdasarkan pengalaman pembangunan kilang LNG terapung di Australia. Tetapi, BP Migas berniat mempercepat penyelesaian proyek menjadi 2017 sesuai dengan perintah dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik.

“Caranya, kami akan percepat proses birokrasi setelah FID yang menyangkut perizinan, pengadaan, dan evaluasi. Semua proses ini akan kami percepat hingga setengah waktu yang biasa dibutuhkan untuk menyelesaikan tiap proses,” jelas dia.

Inpex telah merampungkan desain rinci proyek (front end engineering design/FEED) pada Juni lalu. Untuk pengumuman pemenang rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) akan diumumkan September nanti.

Penyelesain EPC berbagai fasilitas produksi di Blok Masela membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun, sedangkan konstruksi dimulai tahun ini. Vice President Corporate Secretary Inpex Nico Muhyiddin mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan BP Migas untuk rencana pengembangan Lapangan Abadi. Inpex bersama BP Migas akan mengusahakan agar proyek Masela bisa beroperasi secepatnya.

“Kami belum bisa tentukan target pastinya, tapi kami akan lakukan usaha secepat- cepatnya,” kata dia. Dengan cadangan Lapangan Abadi sebesar 6,05 triliun cubic feet (TCF), kebutuhan investasi diperkirakan US$ 9-10 miliar untuk mengembangkannya.

Sesuai rencana pengembangan (plan of development/ POD) yang telah disetujui, Inpex Corporation sebagai operator blok akan membangun kilang LNG terapung berkapasitas 2,5 juta ton per tahun. BP Migas telah memberikan persetujuan POD sejak Desember 2010. Selain LNG, Lapangan Abadi juga memproduksi kondensat 8.400 barel per hari (bph).

Menurut Dirjen Minyak dan Gas Bumi Evita Legowo, pemerintah masih berharap kapasitas kilang LNG di Lapangan Abadi bisa ditingkatkan lagi. Pasalnya, potensi blok tersebut belum bisa diproduksikan optimal jika kapasitas kilang hanya 2,5 juta ton per tahun. Penentuan kapasitas 2,5 juta ton per tahun dulunya karena hanya kapal kapasitas tersebut yang sudah tersedia.

“Tapi, bukan berarti berhenti di sini, kami akan meneruskan ini ke tahap kedua dan selanjutnya,” papar dia. Untuk itu, pemerintah akan menjadikan pembangunan kilang LNG dengan kapasitas 2,5 juta ton sebagai tahap pertama. Untuk tahap kedua, tengah dijajaki pembangunan kilang baru di Pulau Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku.

Kapasitas kilang kedua yang berlokasi di daratan direncanakan bisa memproduksi LNG sebesar 1,5-2 juta ton per tahun sesuai ketersediaan cadangan gasnya. “Tetapi, yang di darat ini masih diperlukan studi untuk mengetahui dasar lautnya apakah palung atau apa. Karena nanti kan akan ditaruh pipa hingga ke darat,” kata Evita.