Thursday, Sep 2, 2010
Tol Kanci-Pejagan Diserbu 48.000 Kendaraan
Thursday, Sep 2, 2010
Bumi Resources raup dividen Newmont US$91 juta
Wednesday, Sep 1, 2010
Bakrie Telecom investasi US$110 juta
Wednesday, Sep 1, 2010
Bakrie Bayar ke Mandiri US$ 150 Juta
| BNBR | 50 | 0.00% |
| BUMI | 1690 | -0.59% |
| UNSP | 275 | 0.00% |
| ENRG | 88 | -3.30% |
| BTEL | 173 | 0.00% |
| ELTY | 114 | 0.00% |
| On Thursday, Sep 2, 2010 16:43 | ||
Finansial BNBR pada semester pertama tahun 2009 lalu memberikan indikasi bahwa kinerjanya sebagai perusahaan investasi, nyata telah mulai pulih, dan memberikan optimisme serta gairah baru.
Memasuki paruh kedua tahun ini, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
memperlihatkan kinerja baik. Indikator‐indikator finansial BNBR pada
semester pertama tahun 2009 lalu memberikan indikasi bahwa kinerjanya
sebagai perusahaan investasi, nyata telah mulai pulih, dan memberikan
optimisme serta gairah baru bahwa kinerja dan fundamental BNBR pada
periode‐periode waktu berikutnya akan lebih baik.
Managing Director/CEO BNBR Bobby Gafur Umar optimis, dalam waktu tidak
terlalu lama perusahaan yang dipimpinnya benar‐benar akan mampu
mencatatkan kinerja finansial yang kembali cemerlang. ʺTanda‐tanda dan
kecenderungannya sudah terlihat sejak awal semester pertama 2009. Catatan
finansial kami di semester pertama 2009 jelas telah merefleksikan kemajuan
dan perkembangan‐perkembangan yang positif tersebut. Kepercayaan pasar
terhadap fundamental operasional dan keuangan perseroan juga telah pulih
dengan mulai meningkatnya harga saham menuju kisaran harga yang wajar,”
katanya di Jakarta.
Sebagaimana diketahui bahwa harga saham BNBR di bulan Maret 2009 masih
bertengger di harga Rp 50 dan enam bulan kemudian telah melesat lebih dari
250% ke kisaran harga Rp 130. Dalam perdagangan Jumat pekan lalu (9/10)
saham BNBR ditutup pada harga Rp 128.
Bersamaan dengan ini BNBR juga telah menyelesaikan pembayaran salah satu
kewajiban terkait MSN yang jatuh tempo pada tanggal 25 September lalu
sebesar Rp 405 milyar, secara tunai dan tepat waktu. “Ekonomi domestik yang
relatif stabil, serta mulai pulihnya ekonomi dunia menambah keyakinan kami
di jajaran manajemen BNBR,” ujarnya.
Likuiditas Solid
Dalam laporan keuangan Juni 2009 ini, BNBR membukukan penurunan dalam
pendapatan dibandingkan tahun lalu. ʺRevenue pada semester pertama 2009 ini
tercatat sebesar Rp.3,464 triliun yang lebih kecil dibandingkan perolehan
semester pertama 2008 yang mencapai Rp.3,925 triliun. Perolehan pendapatan
yang belum terlalu memuaskan tersebut, menurut Bobby, antara lain juga
disebabkan melemahnya harga komoditas kelapa sawit dan karet di pasar
internasional yang kemudian mempengaruhi perolehan pendapatan PT Bakrie
Sumatera Plantations Tbk, serta penurunan pendapatan anak usaha yang
bergerak di bidang metal dan infrastruktur, terkait dengan banyaknya proyek
yang ditunda terkait dengan krisis ekonomi dan turunnya harga minyak bumi.
“Meski demikian, kontribusi PT Bakrie Telecom Tbk terhadap pendapatan
Perseroan pada semester pertama 2009 ini sangat menggembirakan. PT Bakrie
Telecom Tbk pada semester pertama ini mencatatkan perolehan pendapatan
usaha bersih sebesar Rp.1,331 triliun, meningkat 41,9% dibanding semester
pertama 2008,” ujar Bobby.
Dalam laporan keuangan Semester I 2009 yang disampaikan kepada Bursa
Efek Indonesia (BEI) hari Senin (12/10) ini, hingga Juni 2009, BNBR
membukukan kerugian bersih Rp 124,5 miliar, sedangkan di periode yang
sama 2008 mencatatkan keuntungan bersih sebesar Rp 590 miliar. Sementara
itu, dibukukan laba usaha Rp 400 miliar dibandingkan semester I 2008 sebesar
Rp 611 miliar.
Laporan keuangan BNBR juga mencatatkan kenaikan Earnings Before Tax,
Depreciation and Amortization (EBITDA) sebesar Rp 111 miliar atau 12,54%,
menjadi Rp 996 miliar di Juni 2009, dibandingkan periode yang sama tahun
lalu sebesar Rp 885 miliar.
Eddy Soeparno, Chief Financial Officer BNBR mengatakan,“Dengan kenaikan
EBITDA BNBR, maka kemampuan kami untuk memenuhi kewajiban‐
kewajiban, kini sangat membaik. Perseroan kini memiliki likuiditas yang jauh
lebih solid dibanding masa sebelumnya”.
Dijelaskan pula oleh Eddy, “Net loss sebenarnya akan menjadi positif (profit)
sebesar Rp 104,5 miliar sebelum dampak kerugian buku senilai Rp 229,5 miliar
dari program rasionalisasi asset diperhitungkan.
Seperti telah diberitakan oleh beberapa media belum lama ini, pada bulan
April 2009 BNBR telah melepas PT Seamless Pipe Indonesia Jaya kepada
Tenaris SA, sebuah grup industri pipa terkemuka di dunia yang memang telah
lama menjadi strategic partner BNBR sebagai produsen pipa tanpa kampuh
terbesar di Indonesia tersebut.
Penurunan perolehan laba bersih juga disebabkan mengecilnya porsi
kepemilikan Perseroan atas portofolio (anak usaha) dibandingkan tahun
sebelumnya, dimana di dalam laporan keuangan pada Juni 2009 tercatat
komposisi kepemilikan BNBR pada PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk
(UNSP) sebesar 41,78%, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) 49,4%, PT Bumi
Resources (BUMI) 16,6%, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) 14.57% dan
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) 43,2%
Bobby mengungkapkan bahwa Perseroan mempunyai rencana meningkatkan
kepemilikan di beberapa portfolio investasinya melalui beberapa program
buyback yang telah di tanda tangani tahun lalu dan juga membeli melalui
mekanisme pasar. “Kami sangat optimis dengan situasi ekonomi global yang
sudah mulai membaik, naiknya harga minyak bumi di atas level USD70/barrel
dan hingga saat ini seluruh portofolio perusahaan dalam group BNBR
menunjukkan kinerja yang sangat menggembirakan, maka prospek ke depan
BNBR akan sangat cerah. Sehubungan dengan hal ini, kami merencanakan
memperbesar porsi kepemilikan atas portfolio investasi yang ada sekarang,
dan tidak menutup pula kemungkinan masuk ke investasi baru yang masih
under valued atau juga mempunyai upside potential yang menjanjikan”.
Laporan keuangan BNBR juga mencatat total asset hingga Juni 2009 mencapai
Rp 26,112 triliun dibandingkan Juni 2008 sebesar Rp 26,101 triliun
Kewajiban jangka pendek turun sebesar Rp. 10,491 triliun atau turun 71%, dari
Rp 14,689 triliun di Juni 2008 menjadi Rp 4,198 triliun ditahun 2009.
Sedangkan total kewajiban perseroan menurun sebesar Rp 3,371 triliun dari Rp
18,609 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 15,238
triliun hingga Juni 2009 atau turun sebesar 18%.
“BNBR telah secara nyata menurunkan beban hutangnya serta merampungkan
restrukturisasi sejumlah hutangnya, khususnya hutang jangka pendek menjadi
jangka panjang, yang akan jatuh tempo pada tahun 2012. Ini merupakan
keberhasilan manajemen dalam melakukan debt restructuring yang diselesaikan
dalam waktu singkat pada bulan April 2009 lalu,” ujar Eddy menjelaskan.
Rencana Ke Depan
Optimisme akan kinerja yang lebih cemerlang pada periode‐periode waktu
yang akan datang juga tergambar dari sejumlah indikator lainnya. Misalnya,
kinerja dan fundamental anak usaha yang menjanjikan, peningkatan modal
kerja dan fixed assets yg produktif, menurunnya jumlah utang jangka pendek,
peningkatan hampir dua kali lipat total equity shareholders.
Manajemen baru yang ditunjuk pada akhir Juni 2009 lalu, diketahui sedang
merampungkan tahap ke dua dari finalisasi rencana strategis jangka panjang
perseroan. ”Kami sudah memasuki tahap ke dua dari penyelesaian Blue Print
sebagai dasar dari perencanaan strategis BNBR yang akan siap pada akhir
Oktober 2009 ini” demikian penjelasan Bobby.
Selain itu, untuk menggaet investor baru dan meningkatkan kepercayaan
pasar, manajemen BNBR juga merencanakan akan melakukan roadshow dalam
waktu dekat ini. Bobby mengungkapkan: “Dengan pencapaian kinerja yang
menggembirakan serta kesiapan perencanaan jangka panjang perseroan ke
depannya, manajemen akan melakukan roadshow ke beberapa negara di
kawasan regional, serta akan dilanjutkan juga ke beberapa negara Asia dan
Eropa,” kata Bobby.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Siddharta Moersjid
Chief Communications and Administration Officer
PT Bakrie & Brothers Tbk
Ph: +62 21 579 42041
Email: siddharta.moersjid@bakrie.co.id