Jakarta, 22 Juli 2010.
Manajemen PT Bakrie Building Industries (BBI), salah satu anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang bergerak di bidang industri bahan bangunan, saat ini diketahui sedang melakukan penjajakan kerjasama investasi dengan calon-calon mitra strategis di China.
PT BBI bermaksud menggandeng mitra strategis untuk mengembangkan produk-produk baru. Presiden Direktur/CEO PT Bakrie & Brothers Tbk, Bobby Gafur Umar yang dikonfirmasi wartawan, kemarin, membenarkan hal itu. “Ya, benar.
Sekarang manajemen BBI sedang berada di China, untuk melihat kemungkinan menggandeng mitra strategis bagi BBI untuk mengembangkan produk-produk bahan bangunan baru,” kata Bobby. Menurut Bobby, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan terus giat melakukan serangkaian pengembangan bisnis.
Melalui salah satu anak usahanya, PT Bakrie Building Industries (BBI), perusahaan investasi ini menargetkan bisa memperoleh tambahan revenue lebih besar setelah melakukan pengembangan usaha produksi bahan-bahan bangunan.
Manajemen BNBR berharap, portofolio nya ini akan mampu mencatatkan peningkatan penjualan yang besar dalam beberapa tahun mendatang. “Kapasitas produksi terpasang BBI akan kita tingkatkan. Investasi yang kami butuhkan sebesar Rp.84 miliar.
Sumbernya kas internal dan pinjaman bank. Kami berharap, dalam dua tahun ke depan penjualan BBI telah menembus Rp.1 triliun. Ini tentunya akan membawa dampak sangat signifikan terhadap revenue BNBR,” kata Bobby Gafur Umar, Presiden Direktur/CEO BNBR kepada wartawan di Jakarta, Kamis.
Target penjualan BBI sebesar Rp.1 triliun pada tahun 2012, sangat mungkin untuk dicapai. Kinerja usaha BBI yang cemerlang, memang telah tampak jelas sejak beberapa tahun silam. Tahun 2009, misalnya, perusahaan ini mempu mencatatlkan penjualan sebesar Rp.317,7 miliar.
“Kami optimis tahun 2010 ini bisa mencapai Rp.500 miliar dan tahun 2012 bisa menembus Rp. 1 triliun,” kata Bobby menjelaskan.
Bobby sangat optimis, bisnis bahan bangunan yang digarap oleh PT BBI memiliki prospek yang sangat cerah. Pertumbuhan pasar properti di dalam negeri, terutama perumahan dan apartemen menengah tumbuh sangat pesat. Pertumbuhan ini sudah pasti akan membawa dampak yang sangat positif dan sangat signifikan sekali terhadap industri bahan-bahan bangunan,” kata Presiden Direktur/CEO BNBR, Bobby Gafur Umar kepada wartawan di Jakarta, Kamis.
Ia percaya, ekonomi Indonesia tahun ini akan bisa tumbuh mencapai 6,4 persen. Properti akan menjadi salah satu sub sektor yang memiliki daya dorong kuat untuk memacu ekonomi domestik lebih baik dalam beberapa tahun ke depan. Kebijakan moneter yang semakin kondusif, di sisi lain, telah ikut memacu pertumbuhan bisnis properti di dalam negeri. “Semua pengusaha properti di Indonesia percaya, kebijakan suku bunga rendah seperti sekarang ini sangat kondusif bagi mereka.
Sub sektor perumahan dipercaya merupakan yang meningkat. I ni dipicu oleh bunga KPR yang rendah,” kata Bobby. Produk-produk bahan bangunan yang dihasilkan oleh PT Bakrie Building Industries selama ini banyak digunakan oleh properti jenis perumahan. Sejak berdiri tahun 1981 silam, pabriknya yang berlokasi di kawasan Jakarta Barat memproduksi beragam jenis bahan bangunan fibre cement dan produk-produk bahan bangunan metal.
Bahan-bahan bangunan tersebut selama ini banyak dimanfaatkan sebagai material properti seperti atap, plafon dan dinding. Tambah Kapasitas Pertumbuhan pasar yang sangat pesat itu, telah mendorong manajemen BNBR untuk menambah kapasitas produksi PT BBI. Pengembangan usaha tersebut diperkirakan akan membutuhkan investasi Rp.84 miliar, dan ditargetkan selesai paling lambat awal 2011.
“Permintaan produk-produk bahan bangunan fibre cement berbahan baku semen dan chrysotile fiber juga sangat besar. Demikian juga produk-produk bahan bangunan bermaterial metal. Kami harus mengantisipasinya sejak awal. Karena itu kami telah merencanakan untuk memperluas bisnis ke arah produk-produk bahan bangunan berbasis fiber cement asbestos free dan metal roofing,” kata Anton Sukartono, CEO PT Bakrie Building Industries, menambahkan.
Kapasitas produksi terpasang total PT BBI saat ini mencapai 218.000 ton per tahun. Dengan kapasitas produksi sebesar itu, dan melihat kecenderungan pertumbuhan demand yang sangat pesat, sangat sulit bagi PT BBI untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar, apabila tidak segera menambah kapasitas.
Dijelaskan oleh Anton, BBI saat ini merupakan salah satu produsen bahan bangunan berbasis fibre cement yang terbesar di Indonesia. Dengan kapasitas produksi terpasang 200.000 ton per tahun, produk-produk bahan bangunan fibre cement PT BBI saat ini menguasai sedikitnya 25% pangsa pasar nasional.
Di segmen bahan bangunan berbasis metal, PT BBI saat ini memiliki kapasitas produksi sekitar 18.000 ton, dan menguasai sedikitnya 20% pangsa pasar nasional. Ke depan, menurut Anton Sukartono, PT BBI telah merencanakan untuk menambah kapasitas produksi Versaboard, salah satu produk bahan bangunan andalannya yang menggunakan fibre cement asbestos free sebagai material dasar.
“Harus secepatnya kami lakukan untuk mengatasi kekurangan kapasitas yang saat ini terjadi. Kami tidak ingin konsumen kecewa karena permintaan akan Versaboard memang sangat tinggi,” katanya. Selain itu, PT BBI juga merencanakan untuk menambah kapasitas produksi bahan bangunan bermaterial metal. “Kami punya produk bahan bangunan bermaterial metal, dengan merk dagang Orion.
Prospek pasarnya juga sangat bagus. Karena itu kami juga akan memperbesar kapasitas produksinya,” kata Anton. Tak hanya itu, PT BBI juga telah berencana untuk memproduksi bahan bangunan seng bergelombang dan metal roofing berwarna. “Untuk tahap awal, kami mulai dengan trading saja dulu, sambil melihat perkembangan pasarnya. Jangka panjangnya, PT BBI berencana untuk untuk memproduksinya dengan membangun pabrik kedua produk tersebut,” ujar Anton.
Rangkaian rencana penambahan kapasitas produksi bahan bangunan bermaterial fibre cement dan metal tersebut akan mulai dilakukan September mendatang dan diharapkan selesai awal tahun depan.